Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan


Bulan tak nampak malam ini,
Bintang seperti tak ingin menunjukkan dirinya,
Mendung telah menutupi sinarnya,
Menghalanginya hingga sampai ke bumi,

Di desaku tak begitu berarti
apakah bulan bersinar atau sembunyi,
sebab lampu-lampu telah mengalahkan sinarnya
dan membuat kami terperdaya,

pemuda dan pemudi,
saling bertukar canda menikmati malam,
mengacuhkan orang tua mereka yang sibuk dengan acara televisi,
melepaskan kekangan tradisi atas nama modernisasi,

kakekku duduk di emperan rumah,
ditemani segelas kopi dengan keretek hasil lintingan sendiri,
berkali-kali dihisapnya asap tembakau sambil sesekali bergumam,
“ternyata moral juga ikut menua sepertiku”
“dia telah renta dan dilupakan para manusia”
“lalu menunggu waktu kapan ajal akan menjemputnya”

Aku hanya berdiri tepat di belakang kakekku,
Sambil ku pijit pundaknya yang berulang kali pegal-linu,

Dan hatiku tak henti-hentinya mengutuk diriku sendiri,
Aku ini bagian dari moral yang menua,

Blitar, 8 Mei 2016

Sekali lagi kau berulah, Seperti biasa kau getarkan hatiku, Tapi apa dayaku, Aku menikmati itu, Sangat, Laksana bintang di angkasa, berjuta-juta kilometer jauhnya, Namun tetap bisa kupandang jelas, Kala malam, Karena sinarnya yang terang, Seperti itu dirimu, Yang selalu kupandang, Kulihat guritan indah senyummu, Merekah, Seperti mawar yang malu-malu mekar, Aku adalah pungguk, Cuma seorang cecunguk yang setia memandang kerlap-kerlip bintang, Maka apalah artinya jika disandingkan dengan mu? Mungkin hanya meredupkan sinarmu itu, Maka itu sedari dulu aku sadarkan diri, Cukuplah sinarmu yang menyenangkan hati, Menyemangati, Mengindahkan tiap malam ku, Walau mungkin kau pun tak tahu, Tak apalah bagiku. (Blitar, 23 Februari 2016)

Sepanjang langkahku, ku menyusuri jalan-jalan
Mata memandang namun bagaikan buta
Mungkin lebih baik buta
Daripada ku lihat kau tersenyum , tapi untuk dia

Selama kuda tetap berjalan atau berlari
Roda pedati tidak akan pernah berhenti
Jari jemariku rupanya menggenggam penuh dendam
Seolah ingin menghantam cermin di dinding kamarku

Lihatlah langit luas tanpa batas
Tapi tidak dengan akal sehatku

Kau yang telah pergi sejauh matahari
Masih saja kulihat sebagai senja awal dari kepulanganmu

Cubit tanganku agar aku sadar dari mimpi burukku
Aku sudah cukup menua dalam lamunan panjangku

Atmosfer bumi diantara atap rumahku dan angkasa adalah jarak bagaikan kita berdua


(Adhifatul Puaddiyah)

Cinta, kamu yang dijanjikan TUHAN sebagai pendampingku, Kuselipkan kata cinta di setiap doaku, Kuberharap semoga kau tak kaget kala bertemu denganku, Kuharap aku layak menjadi imammu,
Cinta, yang TUHAN telah nubuatkan dalam ketetapannya, berulang kali aku merasakan kehadiranmu, aku bak anak kecil yang girang saat diberi permen loli, aku sangka kau yang datang adalah yang TUHAN janjikan,

Rindu, sebetulnya tak patut aku berkata begitu, tak punya hak aku untuk sekedar merasakamu, memang siapa aku?
Aku hanyalah anak kecil yang tiba-tiba bertemu dengan cinta, gagap seketika dan kaku seperti tiang telpon usang di pinggiran jalanan, tapi hatiku meriang, meriang, seketika panas seketika dingin, tak tentu apa rasanya, tak tahu apa rasanya, tak ada obat di kotak P3K yang mempan terhadapnya,

Berapa kali sudah tanggal 2 mei berlalu, Beberapa kali sudah wacana-wacana disuarakan, Demi kemajuan pendidikan, Demi kemajuan generasi Bangsa yang katanya sedang terancam,
Hari ini ternyata tanggal 2 mei lagi, Peringatan, kata selamat dan kata-kata tertuju pada pendidikan, Semua seolah bersemangat ingin memajukan pendidikan, Semua seolah tak puas dengan kondisi pendidikan, dan aku terlibat ada dalam ueforia ini,

mdgs
Sajak kepada para Ksatria
Terkadang orang-orang mebutuhkan figur
yang lebih dari seorang pahlawan
yang melayani tanpa menghakimi
yang hidup dengan karakter bukan reputasi
yang rela jadi apapun demi bangsanya meski ia akan dilupakan
yang menebar kebajikan meski bukan ia yang akan menuai
yang menyuarakan kebenaran meski untuk itu ia harus mati
yang tetap berjuang untuk keadilan meski tidak ada satupun orang yang tahu
yang biasa di mata manusia namun dipakai untuk melakukan hal yang luar biasa
yang berani menanggung kesalahan yang tak diperbuatnya untuk membawa kedamaian
yang mungkin bukan pahlawan namun sesuatu yang lebih
mereka adalah pahlawan yang tersembunyi, ksatria yang sejati
Gaya asketis itu itulah yang selalu di usung para pekerja sosial. Gaya hidup sederhana namun memberi dampak bagi sesama dan lingkungan.
Apa sebenarnya pekerja sosial (social worker) itu?
Berikut ini adalah pengertian dan definisi pekerja sosial menurut para ahli :
Lusuhnya wajahku,

Tergurat mesra dibaliknya,
Seringai ini, untaian not melayang-layang,
Sejenak melambaikan kibasan tangannya kepadaku,
Aku kini ikuti dia,
luluh dan setetes peluh..
sungai yang telah terukir,
musim yang tak kunjung berakhir,
dan zaman yang mulai luluh,

hai tuanku panglima...
angkatlah sauhmu dilaut sana,
beri makan ikan2 ini saja..
dengan gelap mata,,
maka kita tak bisa apa2..
sebelum kau melihat pekatnya cinta,
sebelum kau merasa gelapnya ia,
tak kan pernah akan kau merasa,
lembutnya daging di bawah duri2nya,
buaian mesra sang surya itu,,
lamat-lamat membasuh pilu,,
keluh... tak mau dibasuh..
menguap..
dan hilang kala senja belum usang,,,
Sang matahari lahir di timur sana
Tertawa riang penuh pesona 
Alangkah bahagianya ia
Andaikan ia masuk ke ruang jiwa
Aku yang dilanda nestapa

Aku ternganga dalam sang waktu
terbelalak sudah bola mataku
tercengang dan terbeku, sejenak..
membuatku mati sekarat
gersang sudah raga ini
hilang sudah jiwa sang matahari